Artikel leadership training kali ini mengupas mitos-mitos kepemimpinan yang seringkali tidak tepat. Beberapa yang masih dipercayai seperti, seorang pemimpin harus ekstrovert. Atau pemimpin cuma orang yang memberi perintah.
Bacaan di bawah ini mungkin bisa meluruskan pikiran keliru dan memberikan kamu semangat baru untuk melatih skill kepemimpinan!
1. Kamu Tidak Punya Bakat Memimpin

Pernah dengar istilah fixed mindset? Mari buang jauh-jauh. Ini adalah anggapan bahwa kecerdasan dan bakat itu stoknya terbatas dan tidak bisa bertambah.
Jika kamu tidak percaya diri, berpeganglah pada prinsip growth mindset. Artinya kecerdasan dan kemampuan, semuanya bisa dilatih melalui dedikasi, usaha, dan belajar dari pengalaman.
Riset menunjukkan bahwa ketika kamu percaya kemampuan kamu bisa berkembang, kamu jadi lebih berani mengambil tantangan. Perubahan mindset dari “tidak bisa” menjadi “belum cukup belajar” adalah contohnya.
2. Cukup Belajar Teori

Otak butuh pengalaman di lapangan. Membaca buku tentang berenang tidak akan membuat seseorang pandai berenang. Begitu juga dengan memimpin. Karena otak manusia bekerja dengan prinsip neuroplasticity.
Otak membentuk jalur saraf baru (neural pathways) hanya ketika kita melakukan sesuatu secara berulang, bukan saat kita berdiam diri.
Inilah salah satu alasan kenapa metode Immersion jauh lebih efektif daripada hanya bergantung pada materi.
Saat kamu terjun memimpin proyek kamu akan menghadapi stres. Kamu belajar membuat keputusan dan berdiskusi. Lalu, kamu akan merasakan hasil dari proses.
Pengalaman fisik dan emosional inilah yang mengukir keterampilan kepemimpinan secara permanen di otak.
3. Belajar Tanpa Feedback

Pengalaman tanpa feedback itu kurang “gurih”. Pengalaman memang guru terbaik, tetapi tetap perlu evaluasi. Melakukan kesalahan yang sama berulang kali tanpa ada yang mengoreksi itu bukan belajar.
Di sinilah pentingnya feedback. Dalam leadership training, setiap aksi kamu harus diikuti dengan sesi refleksi. Untuk memberikan konteks pada pengalaman yang kamu rasakan.
Artinya mentor dalam program pelatihan tidak hanya menyuruh, tapi memberikan feedback yang membangun. “Apa yang berhasil dan perlu ditingkatkan?” “Apa yang perlu diperbaiki dari proyek sebelumnya?” seperti itu contohnya.
4. Pemimpin Adalah Orang yang Menyuruh-Nyuruh

Mungkin kamu berpikir seorang leader adalah orang yang suka menyuruh-nyuruh. Kami tidak menanamkan hal tersebut dalam leadership training kami.
Pemimpin yang otoriter justru berdampak negatif pada semangat dalam tim. Pemimpin yang berhasil memberikan dampak positif adalah yang siap mengayomi dan etis. Karena yang terbaik tentu memberdayakan teman dan tidak menguasai panggung sendirian.
5. Pemimpin Harus Ekstrovert

Kita sering mengaitkan kepemimpinan dengan karisma karena pemimpin biasanya berada di depan layar. Namun, banyak pemimpin memiliki kepribadian yang introvert. Mereka adalah orang yang butuh waktu sendirian untuk mengisi energi bersosialisasi.
Tidak percaya? Contohnya adalah Barack Obama. Ia adalah mantan presiden Amerika Serikat. Obama memanfaatkan empatinya untuk menginspirasi masyarakat.
Meskipun tidak selalu berada dalam posisi memimpin, atlet seperti Lionel Messi, Shohei Ohtani, dan Tim Duncan adalah seorang introvert. Tokoh-tokoh di atas membuktikan kepemimpinan bisa diraih siapa saja.
6. Diam Berarti Semua Orang Setuju

Ada asumsi bahwa jika tidak ada keluhan, berarti semua orang setuju. Faktanya, anggota tim seringkali ragu untuk berbagi perasaan karena takut. Bahkan, berasumsi bahwa pemimpin sudah tahu masalahnya.
Anggota yang diam tidak bisa dianggap setuju. Seorang pemimpin perlu memiliki kemampuan komunikasi dua arah. Memberikan perhatian terhadap pendapat dan ide. Bisa dimulai dari bertanya apakah mereka memahami hal yang kamu sampaikan.
7. Pemimpin Harus Menyenangkan Semua Orang

Disukai banyak orang memiliki keuntungannya sendiri. Namun, bayangkan. Saat berada di situasi yang sulit, kamu harus berani mengambil keputusan yang tidak disukai demi sebuah tujuan.
Sebagai pemimpin, kamu akan menghadapi hal seperti itu berulang kali. Membuat pilihan, walaupun membuat anggota tim tidak menyukaimu.
Jika seorang pemimpin terlalu terjebak dalam people pleasing, juga tidak baik. Mereka cenderung mengambil keputusan yang “aman” tapi bukan yang terbaik.
Karakteristik kepemimpinan dapat diajarkan asalkan metodenya tepat. Dimulti Immersion hadir untuk menjembatani teori dan praktek, supaya siswa bisa mendapatkan yang terbaik.
Kami memberi materi di kelas dan membawa siswa ke dalam pengalaman langsung yang menstimulasi mental mereka.
Kami membantu sekolah mencetak generasi pemimpin yang tangguh dan siap bersaing melalui leadership training. Langkah pertama adalah menghubungi kami di WhatsApp 0811-933-774 (Yani).







Leave a Comment